Dua Ribu Enam Belas: Makna Bersyukur

Sudah lama tidak memperbarui cerita di blog. Empat tahun absen bukan karena pundung atau bosan tapi karena saya tidak punya keberanian cukup untuk menuangkan cerita. Terkadang saat merangkai kata, sisi melankolis mempengaruhi. Alhasil goresan kata yang seharusnya murni hanya opini pendapat bisa jadi kebanyakan bumbu lebay hingga cerita bisa blunder, ngalor ngidul, meleset dari inti cerita. Well, Overthinking is my middle name haha..

LunarNewYear

Happy New Year / Happy Lunar New Year / Xīn Nián Kuài Lè / 새해 복 많이 받으세요


Moving on!

I’m typing this article not to pity myself, but to self-deprecating hahaha… kidding… (this black humor ^^;)

Sekarang baru mulai bulan kedua di tahun 2016 tetapi sudah banyak momen terjadi satu bulan ini. Selain saya sudah tidak jomblo single lagi (yes I’m taken), saya mencoba merangkul kebiasaan baru yang tidak pernah dilakukan oleh masa muda single saya..

Bersyukur.

Bukan berarti di tahun sebelumnya saya tidak pernah sekalipun bersyukur. Namun intensitas mengucapkan terima kasih lebih sedikit [baca: jarang]. Saat masih kecil, orang tua selalu mengingatkan untuk mengucapkan kata ‘terima kasih’ dengan suara lugas dan penuh penghayatan. Saya yang masih kecil selalu merasa kata tersebut hanyalah ucapan formalitas belaka agar tidak di cap sebagai anak yang tidak patuh, bukan karena penghayatan akan kebaikan orang lain.

Lalu, entah kesambet apa suatu hari hidayah hinggap di pikiran… Saya harus mulai mendeskripsikan rasa syukur. Bukan hanya mengucap “Alhamdulillah” saja tetapi “Alhamdulillah atas………..”

It’s hard at the beginning… Belum juga mulai saya sudah kehilangan keyakinan apakah menulis jurnal syukur ini akan membuat diri menjadi lebih baik? Pernyataan diri cukup skeptis. Kebiasaan untuk menunda (procastination) datang menghampiri. Cukup membuat saya tidak mulai mengungkapkan rasa syukur selama 3 bulan, tepat sebelum W-day berlangsung. (Yep, ini sebetulnya bagian kecil dari cerita persiapan pernikahan).

Semakin mendekati hari yang dinanti-nanti saya semakin kepikiran, bukan karena pasangan namun rasa kekhawatiran berlebih akan jalannya acara. Maklum diurus sendiri mulai dari KUA menghadap penghulu bersama mantan pacar hingga produksi merchandise. WO datang hanya 20 hari sebelum Big Day.

I’m getting nervous… “I need to let it out….” Lalu akhirnya… saya buka memo di hape dan jurnal syukur mulai diketik kata per kata. mengalir begitu saja.

Awalnya list momen yang disyukuri sangat pendek, hanya 1 hingga 2 poin saja. Isinya hanya sebatas menghargai momen-momen besar seperti bayaran buat DP gedung cair atau bahan seragam sudah beres.

Then I though “Wow, I am too snob to be grateful”

Sebut saja, saya harusnya bisa mengungkapkan rasa syukur karena bisa bangun tanpa mimpi buruk, bersyukur bisa diantar suami ke tempat jahit, bersyukur asisten rumah tangga membuat sarapan yang lebih enak dari restoran, bersyukur teman bersedia membaca saritilawah, etc. Hal-hal kecil itu tidak saya tulis di jurnal. Ada banyak momen keseharian yang kurang saya hargai sehingga tidak layak masuk dalam jurnal syukur. Rasa syukur yang saya alokasikan bisa dibilang hanya sebatas momen besar saja yang tidak akan bisa ditemui setiap harinya.

Mengurangi rasa khawatir berlebihan, iya. Tapi memaknai perasaan bersyukur di setiap momen, tidak. What a shame… 

Setelah menyadari hal itu saya mulai menuliskan hal-hal kecil yang terlihat sepele menjadi sesuatu yang bermakna. Bersyukur bisa buang air, bersyukur suami bilang sayang pagi hari, bersyukur dibelikan makan siang, bersyukur dapat parkir dekat lobi, bersyukur dapat tiket nonton gratis Super Junior K.R.Y., apapun itu.

Apapun yang saya anggap itu berkah baik kecil maupun besar mulai saya nyatakan kedalam jurnal. Bukan untuk menghitung berapa banyak rejeki yang saya terima, tetapi untuk memaknai hikmah di setiap momen. Saya pernah baca di satu artikel (tidak ingat sumbernya) bahwa seseorang yang bersyukur disetiap kesempatan akan tetap melihat hikmah meskipun saat ia diuji. Semoga saya ditempatkan diantara orang-orang yang bersyukur supaya kesulitan sebesar apapun yang saya hadapi masih bisa dilihat sisi positifnya. Bukan dihadapi dengan mengeluh. Amin.

 

Sudahkah Anda bersyukur hari ini?

4 thoughts on “Dua Ribu Enam Belas: Makna Bersyukur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *